Rabu, 20 Februari 2013

Nilai Kerja Manusia


Di jaman yang semakin kompleks ini, makna dan nilai bekerja telah bergeser. Bekerja dipahami secara sempit sebagai hal duniawi belaka. Kebanyakan orang tanpa sadar melihat makna bekerja sekadar mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Fakta lain menunjukkan bahwa makna dan nilai bekerja telah menyempit menjadi mengejar nilai ekonomis. Kepuasan dalam bekerja identik dengan kepuasan materialis. Manusia bekerja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing, namun untuk mengumpulkan modal. Modal dan uang dikejar demi uang itu sendiri dan tidak lagi mempertimbangkan kesejahteraan bersama (bonum commune). Akhirnya kerja pun bukan lagi demi pemenuhan kebutuhan hari ini, tetapi melampaui kebutuhan dan memiliki orientasi mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Bahkan demi mendapatkan hasil ekonomis, seseorang mengabaikan nilai moral dalam bekerja, dengan melakukan praktek ketidak jujuran.
Dalam mengolah dan menggumuli subtema pertemuan pertama ini, kita perlu memperhatikan beberapa segi atau aspek pokok pewartaan terkait. Dengan demikian karena terang dan ispirasi darinya kita dapat menemukan makna dan arti baru kerja dalam kehidupan sehari-hari.

Kerja sebagai panggilan Tuhan
Kerja menegaskan jati diri fundamental manusia yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Perjanjian Lama menampilkan Allah sebagai Pencipta Mahakuasa (bdk. Kej 2:2; Ayb 38-41; Mzm 104; Mzm 147) yang membentuk manusia seturut citra-Nya dan mengundang dia untuk mengolah tanah (bdk. Kej 2:5-6) serta mengusahakan dan memelihara taman Eden di mana Allah telah menempatkannya. Kepada pasangan manusia pertama Allah mempercayakan tugas untuk menaklukkan bumi dan berkuasa atas semua makhluk hidup (bdk. Kej 1:28). Namun kekuasaan yang dilaksanakan manusia atas semua makhluk hidup yang lain, bukanlah sesuatu yang lalim atau sewenang-wenang; sebaliknya, ia harus “mengusahakan dan memelihara” (Kej 2:15) harta benda yang telah diciptakan Allah. Harta benda ini tidak diciptakan manusia, tetapi telah diterimanya sebagai suatu karunia berharga yang ditempatkan Sang Pencipta di bawah tanggung jawabnya.
Mengusahakan bumi berarti tidak membiarkan dan menelantarkannya; menaklukkannya berarti memeliharanya, seperti seorang raja arif yang mengayomi rakyatnya dan seorang gembala yang menjaga kawanan dombanya. Hal tersebut juga menerangkan tentang kegiatan manusia di dalam alam semesta: manusia bukanlah pemiliknya, melainkan orang-orang kepada siapa alam semesta itu telah dipercayakan, yang dipanggil untuk memantulkan di dalam cara kerja mereka sendiri gambar dari Dia yang di dalam keserupaan dengan-Nya mereka telah diciptakan. Dengan kata lain pekerjaan yang kita jalani adalah merupakan karunia dan rahmat Tuhan sendiri yang mesti kita hayati secara bertanggungjawab seturut martabat yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Kerja bukan hukuman Tuhan
Kerja adalah bagian dari keadaan asli manusia dan mendahului kejatuhannya ke dalam dosa; karenanya kerja bukan merupakan hukuman atau kutukan. Kerja menjadi berat dan menyengsarakan karena dosa Adam dan Hawa, yang memutuskan relasi kepercayaan dan keselarasan mereka dengan Allah (bdk. Kej 3:6-8). Larangan untuk makan dari “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (Kej 2:17) menjadi peringatan bagi manusia bahwa ia telah menerima segala sesuatu sebagai anugerah, dan bahwa ia senantiasa menjadi makhluk dan bukan Khalik. Justru godaan inilah yang mendorong Adam dan Hawa berbuat dosa: “kamu akan menjadi seperti Allah” (Kej 3:5). Mereka menghendaki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu, tanpa mau taat kepada kehendak Sang Pencipta. Sejak saat itu, tanah menjadi seteru yang pelit, tak sudi mengganjar dan degil (bdk. Kej 4:12); hanya dengan peluh yang menetes di kening barulah mungkin tanah itu mengeluarkan hasil (bdk. Kej 3:17,19).
Sekalipun dosa kedua nenek moyang kita itu, rencana Sang Pencipta, makna makhluk-makhluk ciptaan-Nya – dan di antaranya manusia yang dipanggil untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan – tetap tidak berubah. Pada dasarnya Allah menghendaki agar manusiadalam hidupnya berkerja. Dan manusia menjalaninya secara benar sebagai tugas dalam dunia milik Tuhan. Melalui kerja manusia bisa bertahan dan melanjutkan hidupnya serta berinteraksi dengan lingkungan dan ciptaan Tuhan lainnya, sekaligus sebagai salah satu cara memuliakan Tuhan.

Hubungan kerja dengan iman
Hubungan kerja dengan iman atau kerja merupakan perwujudan iman, kaitannya tidak begitu mudah dilihat secara lahiriah. Hanya pribadi yang bersangkutan yang bisa merasakan dan menghayatinya. Walaupun demikian, kita mesti memaknainya secara jernih. Rasul Yakobus menyatakan seperti berikut ini. “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Iman adalah jawaban kita kepada panggilan Tuhan. Iman itu hendaknya diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam bekerja. Oleh karena itu kita hendaknya semakin terbuka terhadap kehendak Tuhan, untuk bekerja dengan semangat iman, demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan manusia. Sikap dan semangat yang lain seperti menghargai pekerjaan dan pekerja, peduli terhadap fenomena pengangguran serta bersemangat dalam karya pelayanan adalah merupakan buah-buah dan wujud dari iman kita.
Akhirnya perlu disampaikan khususnya bagi para pemandu, dalam menggumuli subtema pertemuan pertama ini dalam kebersamaan, tentu diperlukan langkah dan proses yang mendukungnya agar sungguh mengena, menyentuh, dan mendalam. Dengan demikian dalam pertemuan ini bisa menghasilkan buah-buah pertobatan yang dapat mengembangkan hidup beriman umat bertolak dari situasi konkritnya. Oleh karena itu maka dalam pertemuan ini pertama-tama peserta akan diajak menyadari pengalaman hidup masing-masing dalam kebersamaan dan kemudian mengambil terang serta inspirasi dari Ajaran Gereja khususnya dari Kompendium ”Ajaran Sosial Gereja” (ASG) Artikel 275.


Sumber "Bahan Pemandu APP 2013 Keuskupan Purwokerto"

Rabu, 28 November 2012

Inilah Tema Natal PGI & KWI 2012: "Allah Telah Mengasihi Kita (1 Yoh. 4:19).


Tahun Iman, Renungan Adven Bertemakan "Mendoakan Dan Mendalami Pengakuan Iman".

Pastor B. Doso. S, Pr
Pembekalan Pemandu Materi Adven Paroki St. Yusup Kotabaru dilaksanakan pada hari Selasa, 27 November 2012 Pk. 16.00 s/d selesai bertempat di Pastoran Katolik "Damai Bagimu" disampaikan oleh Pastor Antonius B. Doso Susanto, Pr. 
Sekitar 20 pemandu dari beberapa Komunitas Kota mendapatkan pembekalan ini. Dalam sambutannya Pastor Paroki St. Yusup Kotabaru menyatakan permohonan maaf karena dalam perencanaannya akan dilaksanakan hari Senin, 26 November 2012 Pk. 18.30 WITA bertempat di Gereja Katolik jl. Singabana 94 Kotabaru. Kegiatan ini diundur karena saat itu Pastor Doso diperkirakan sampai di Kotabaru kurang lebih Pk. 21.00 setelah memberikan Pembekalan Pemandu Materi Adven di Paroki Stella Maris Sungai Danau. 
Kedatangan Pastor Doso di Kotabaru benar seperti yang diperkirakan sebelumnya, yaitu sekitar pk. 21.00 bersama Bp. Karman, Bp. Dwi yang menemaninya. Pastor Doso mengalami hambatan saat melewati jembatan yang diperbaiki di Tanah Bumbu. Maka ada alternatif yang ditawarkan oleh Pastor Doso, bagaimana kalau dilaksanakan besok sore (tanggal 27 red.). Tawaran itu di sambut baik oleh pemandu sehingga malam itu dibatalkan.

Peserta Pembekalan Pemandu Adven 2012
Dalam  pembekalan yang berlangsung banyak hal di sampaikan oleh Pemandu. Diantarannya tentang kekhasan Gereja Katolik yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Apakah nggak akan terasa kaku bila Gereja menyatakan Kesatuan dan berpusat, sehingga perayaannya tidak dapat inkulturasi dengan budaya setempat? Gereja yang bersifat Satu merupakan hakekat Gereja yang menyatu dalam diri Allah yang kudus dipersatukan oleh Roh Kudus. Tentang Inkulturasi Gereja cukup hati-hati, dan mestinya juga Pastor harus hati-hati dalam menggunakan budaya yang akan dimasukkan dalam Ekaristi, sebab bisa jadi salah.

Beberapa pemandu juga berharap akan materi pendukung pendalaman dari KHK (Kitab Hukum Kanonik), KGK (Katekismus Gereja Katolik), KKGK ( Kompendium Katekismus Gereja Katolik), dan juga Dokumen Konsili Vatikan II. 

Pertemuan berjalan lancar dan karena Pastor Doso terjadwal di Paroki St. Vincencius A Paulo sore itu juga, maka setelah selesai penyampaian Pendasaran dan bahan Pendalaman Beliau mohon diri dan meluncur ke Tanah Bumbu. Peserta yang hadir masih menyempatkan waktu untuk bersama-sama dengan Pastor Paroki untuk membicarakan beberapa hal praktis dalam Pendalaman Adven tahun 2012 ini.

Rabu, 21 November 2012


Hidup Susah Matipun Susah ,,,,,

Misa Peringatan Arwah semua orang beriman dilaksanakan pada tanggal 2 November 2012, bertempat di makam Tiong Hoa jl. M. Alwi (depan SMP N 1 Kotabaru) dipimpin oleh Pastor Paroki St. Yusup, Yohanes Susilohadi, Pr.

Pastor Johan Susilohadi, Pr
Umat Katolik memuliakan semua Orang Kudus dan berdoa memohon agar kita pun kelak bisa berbahagia bersama mereka di dalam surga sambil memandang wajah Allah, Bapa kita. Saat itu umat mengenang saudara-saudaranya yang telah meninggal namun masih berada di Api Penyucian. Bahkan seluruh bulan Nopember ini kita khususkan untuk berdoa dan berkorban untuk memohon kerahiman Allah atas mereka. Hal ini kita lakukan karena di dalam Yesus Kristus, Penyelamat semua orang, yang merindukan keselamatan dari Allah dengan tulus hati, kita tetap bersatu padu dengan mereka. Dalam iman akan Kristus itu, kita percaya bahwa apa yang kita namakan Persekutuan para Kudus meliputi baik kita yang masih hidup di dunia ini, maupun semua Orang Kudus di surga, dan semua orang yang telah meninggal. Bersama-sama kita membentuk dan terhimpun di dalam satu Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus.
Saat itu secara khusus mengenang dan berdoa bagi arwah semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Maka kiranya ada baiknya kita menyadari makna peristiwa kematian menurut ajaran iman kita. Bagi kita orang Kristen saat kematian sesungguhnya merupakan peristiwa puncak kehidupan. Hidup kita tidak lenyap, melainkan hanya diubah. Kita percaya bahwa sesudah pengembaraan kita di dunia ini selesai, tersedialah bagi kita kediaman abadi di surga. Kematian bagi kita merupakan saat kita mempercayakan diri secara total kepada Kristus, kebangkitan dan kehidupan kita saat perjumpaan abadi dengan Dia, pokok pengharapan kita, yang mengantar kita pulang ke rumah Bapa.
Atas dasar iman itu, kita memohon agar saudara-saudara kita yang telah meninggal dunia disucikan dari segala dosanya, dibebaskan dari segala hambatan dan noda, dan boleh menikmati kebahagiaan kekal di sisi kanan Allah, Bapa kita, serta boleh bersama-sama para kudus di surga memandang wajah Allah yang dirindukannya. Hari kenangan dan peringatan ini pun sekaligus memberi penghiburan rohani bagi kita, bahwa kelak kita akan berjumpa kembali dengan saudara-saudara yang telah mendahului kita, untuk bersama Maria memuji dan memuliakan Allah dalam persekutuan semua orang kudus. Kita pun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini dan pulang kepada Bapa di surga. Tetapi kita percaya bahwa hidup atau mati, kita tetap milik Kristus.

Dalam peristiwa misa itu juga umat Katolik Kotabaru diberi kesempatan untuk membakar seluruh ujub doa bagi arwah orang beriman yang didoakan, asap yang mengepul keangkasa merupakan harapan umat beriman akan terkabulnya permohonan, demikian ungkap Pastor dalam homilinya.
Prosesi Pembakaran Doa Ujub untuk Arwah
 Terkait dengan tempat pemakaman, secara khusus umat Katolik Kab. Kotabaru belum memiliki tempat yang dapat dipergunakan sebagai pemakaman. Dalam perjalanan waktu, pernah Umat Kristiani Kotabaru melalui BKAG (Badan Kerjasama Antara Gereja) diberikan lokasi pemakaman di desa Seblimbingan Kec. Pulau Laut Utara lewat Bpk Lukman Pakpahan (selaku Ketua BKAG saat itu) dengan luas 27.786 m2  denga surat Bupati no.28/1083/Kapsipda/2006 tertanggal 05 Oktober 2006. Namun karena belum dimanfaatkan sampai dengan tahun 2011, maka pemerintah daerah lewat surat Bupati Kotabaru no. 590/454/Setda, tanggal 30 Mei 2011 di pindahkan ke Desa Megasari Kec. Pulau Laut Utara karena akan diadakan pengembangan kota. Setelah ditunggu beberapa waktu belum ada penetapan yang pasti, maka Kementerian Agama lewat Bimas Katolik sebagai mitra Gereja dimohon menelusuri hal tersebut. Hasil koordinasi Penyelenggara Bimas Katolik Kementerian Agama Kab. Kotabaru dengan Kabag Pertanahan Pemda Kab. Kotabaru (waktu itu Bp. Minggu Basuki) diinformasikan bahwa sudah ada dana hanya belum ada lahan yang akan dibebaskan untuk pemakaman. Umat dimohon sabar menunggu, setelah beberapa saat menunggu juga belum menghasilkan maka beberapa waktu lalu Penyelenggara Bimas Katolik Kementerian Agama Kab. Kotabaru  mendatangi lagi Bagian Pertanahan Pemda untuk konfirmasi ulang. Hasilnya tetap saja sama, hidup susah matipun susah ...... apalagi bila saat ini dikehendaki Tuhan untuk menghadap maka umat Katolik harus siap dana mulai dari 5-10 Juta untuk proses pemakaman. Hem,,,,,, (SBY)